RESTU BUNDA
Ketika hati
telah memilih
matahari
‘kan tertutup awan gelap
Takkan
terlihat beningnya air saat hujan menggenangi pasir pantai yang putih
Takkan
terasa udara di bawah pohon nan rimbun
Mungkin
hatiku telah menyadari hal itu
hingga
kusingkirkan awan pekat itu
dan kubuka
mata hatiku tuk melihat
kupecahkan
dinginnya es yang menyelimuti kulitku
sehingga
kurasakan angin kehidupan memasuki kerongkonganku
Kuingin
ketika tiba saatnya
bukan lelaki
bersepatu emas
bukan lelaki
berparas sutra
dengan hati
selembut kapas
Namun lelaki
yang ketika berhadapan denganmu Bunda…
Maka kau
‘kan langsung berkata…
“ya… aku
menyetujuinya”
Mataram,
12-12-2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar