Minggu, 24 Juni 2012

PUISI "AKU TAK MARAH PADA CINTA"


AKU TAK MARAH PADA CINTA
Aku tak marah pada cinta
Walaupun ia telah membawa pergi dia
Aku tak marah pada cinta
Walaupun ia membuang sahabatku, ke dalam derai air  mata
Aku tak marah pada cinta
Walaupun ia membuat dia asing bagiku
Aku tak marah pada cinta
Walaupun ia telah merenggut seorang kakak dariku
Aku tak marah pada cinta
Walaupun ia membuat hatiku menangis, sampai terkelupas kulit hatiku
       Karena cinta pernah membuatku riang
       Karena cinta membuatku bermakna
       Dan cintalah yang membutku dewasa.
                                                       22 november 2011

PUISI "TINGGALKANKU"

Ngegombal nyook.. hehehhe.. saaatnya ngepost puisi gaje. ahahah


TINGGALKANKU
Jika sayapmu telah patah
Maka kau bisa berjalan dengan kakimu
Biyarlah kakimu yang akan menuntunmu
Pada sebuah cinta yang telah kau tunggu
Kau tak perlu lagi menguji kesetiaan cinta dan tulusnya hati, jika kau takut dengan kekecewaan
Biyarlah waktu berjalan…..
Karna pabila ku sudah siap
Takkan ada satu pun orang yang akan kukecewakan
                                             
   27 november 2011

CERPEN "Gadisku Nyatanya Bukan Untukku"



Pagi all... hehee.. hari niy baru slese nyontreng ketua BEM niy di kmpus, tyus kemarin sy bikin cerpen yang rada2 gaje sebenernya. tapi moga ja suka. baca ja yaa. jangan lupa coment... hehe

Gadisku Nyatanya Bukan Untukku
Namaku Ardan, aku adalah seorang laki-laki yang terlahir dengan wajah yang menurutku tidak terlalu tampan, karena kulihat aktor Nicholas Saputra lebih tampan dariku. Aku juga tak merasa memiliki penampilan yang keren karena pembalap Lorenzo jauh lebih keren dari bayanganku. Namun aku juga heran kenapa nasib masih nggan menginggalkanku dan malah berpihak padaku. Dengan tampang yang seadanya ini kumampu membuat perempuan-perempuan di luar sana sampai keluar matanya melihatku karena tak ada satu pun dari bola mata mereka yang berkedip menatapku. “Aah..! aku tidak tampan dan tidak keren namun aku luar biyasa” lirihku dalam hati.
Aku memiliki seseorang yang sangat mirip denganku lebih dari yang orang-orang bayangkan dan dia nyata ada di sampinku. Ia bernama Rando, ia adalah orang yang telah menjiplak wajah, tubuh, suara, dan pikiranku, namun hanya satu yang tak bisa ia jiplak dari ku yaitu, hatiku. Aku selalu merasa paling dewasa darinya karena memang aku lahir 7 menit lebih cepat darinya dari rahim yang sama. Walaupun ia aku katakana penjiplak tapi aku sangat menyayanginya sebagai adikku, dan ia  menghormatiku sebagai kakaknya.
Walaupun kami dijuluki sebagai anak kembar, nasib Rando tak sebaik nasibku. Tak perluku sampai repot-repot ke dukun untuk memelet gadis atau mengikuti kontak jodoh di tv-tv, karena gadis-gadis telah antri untuk kujadikan pemilik hatiku. Sedangkan Rando belum punya seorang gadis pun dalam hatinya, entah karena dia terbiasa dengan kencan-kencan panasnya dengan buku-buku kuliahnya sehingga mengharuskannya untuk berduaan setiap malam dalam kamar yang remang-remang karena hanya lampu di atas meja belajar yang menyala, atau karena ia adalah orang yang selektif dalam memilih pasangan hidup.
Setiap hari aku selalu berangkat ke kampus bersama dengan Rando saudaraku, kadang aku yang membawa kemudi, kadang aku duduk santai di belakang karena Rando yang memegang kemudi motor hitam yang kami beri nama Jinggo. Jinggo melaju dengan cepat menyalip setiap kendaraan yang berjalan lambat di depannya karena ia tidak ingin tuannya terlamabat sampai di kampus. Walaupun kami berada di kampus yang sama, Rando dan aku mengambil jurusan yang berbeda sehingga terkadang jadwal pulang kami pun berbeda. Ketika jam kuliahku belum selesai Rando selalu mengungguku di Perpustakaan untuk berkencan dengan buku-buku di sana, namun jika Rando yang masih harus menyelesaikan jam kuliahnya maka aku akan menunggunya sambil berkencan dengan mahasiswi-mahasiswi yang lain. Dalam hati kadang aku merasa kasihan pada Rando, karena tidak mungkin seumur hidupnya ia harus mengunci diri.
Suatu malam saat aku bersiap untuk tidur seperti biyasa Rando aku tinggalkan dengan suasana remang tengah malam. Aku juga sangat bangga padanya karena disaat ku tertidur, orang tuaku tertidur, tetanggaku tertidur, dan seluruh dunia yang merasakan malam tertidur, saudara kembarku Rando masih terjaga untuk belajar dan duduk rapi di meja belajarnya. “Ingin rasanya kuseperti dia namun semuanya butuh waktu dan proses” pikirku. Tik..tik..tik..tik..drrreettt..drreettt aku terbangun dan mulai membuka mataku pelan, kuliahat masih pukul 02.00 dini hari, “hhhmmm suara apa itu?! apa Rando masih berkutat dengan komputernya?! kubertanya dalam hati. Kuangakat kepalaku dan kuliahat Rando masih duduk rapi di meja belajarnya, tapi kulihat komputer di depannya sudah mati, “lalu suara apa itu?!” pikirku dalam hati. Kembali suara itu terdengar tik…tik…tik… dreeeett..drreeettt, segera kuangkat kepalaku dan kulihat ternyata Rando sedang bermain sms-an dengan seseorang, tidak biyasanya Rando sms-an selarut ini, “mmm jangan-jangan.. ah..! tidak mungkin, Rando pasti sedang sms-an dengan teman sekelasnya untuk membahas tugas”. Walaupun itu terkesan janggal di pikiranku karena seorang laki-laki berusia 20 tahun sms-an dengan hanya menggunakan nada getar saja di tengah malam hanya untuk membahas tugas, namun kuanggap itu benar karena kutak membiarkan pikiranku melayang untuk menyelediki apa yang dilakukan saudara kembarku itu.
%#########%
Kuliahat jam tanganku, jam menunjukkan pukul 02.00 siang, “pasti Rando sudah lama menunggu seingtku jam 11 tadi ia sudah selesai kuliah”. Aku bergegas ke Perpustakaan menjemputnya, namun tak kutemuakan batang hidungnya di sana “ke mana dia?!”. Kuambil hp di saku celanaku berniat untuk menelponnya, aku menekan tombol-tombol hpku sambil berjalan menuruni tangga, terdengar panggilan terhubung di hpku namun Rando belum menjawabnya, kulayangkan pandanganku ke sekeliling kampus, dan benar saja kulihat sosok Rando dari arah taman dan ia berjalan ke arahku. “Tumben gak nunggu di Perpus Ndo?!” sambil kumasukkan hpku kembali ke dalam saku celanaku, “ heee ia sorry-sorry tadi aku keliling taman bentar” dia langsung membalikkan badan seolah ia tau bahwa aku akan meluncurkan pertanyaan lain. Wajah Rando sangat berseri dengan senyum merekah, tak pernah kuliahat wajah seceria itu sebelumnya, mungkin dengan tidak melihat Perpustakaan sehari bisa menyegarkannya kembali, “Dan…..!” Rando membuyarkan lamunanku “mau pulang atau mw nginep di kampus, ?! hee” lanjutnya, “iya-iya…” segera aku lari berhamburan menuju Jinggo yang sudah siap untuk melesat membawa kami pulang.
Malam ini kuterbangun lagi, kali ini tidak hanya melihat Rando sedang sms-an namun terlihat senyum simpulnya dengan pipi yang memerah. Di kampus pun kerapkali aku kehilangan jejaknya, “Rando terlihat mencurigakan..!” bisikku sendiri. Lagi-lagi malam ini terulang kembali, ahirnya kuberanikan diri bangun dan bertanya padanya. Ia terlihat kaget dan panik melihatku terbangun, kudesak ia agar mau bercerita. Ahirnya malam itu untuk pertama kalinya kami curhat sebagai saudara sekaligus sahabat. Rando bercerita kalau ia ternyata telah berpacaran dengan seorang gadis dari fakultas lain, sungguh ku terkejut bukan main, Rando diam-diam mencuri startku. Diam-diam Rando telah memiliki pujaan hati mengalahkanku , padahal aku memiliki pemuja yang tak terhitung jumlahnya namun tak ada satupun yang berterima di hatiku, sedangkan Rando kini sudah memiliki kekasih. Tapi bukan marah yang kurasa namun rasa haru bahagia karena saudaraku telah memiliki sandaran hatinya yang mempu menggeser posisi buku-buku tebal dalam hati Rando.
Hari ini di kampus kuminta Rando mengenalkan gadis itu padaku, benar saja Rando membawanya untuk berkenalan denganku. Gadis itu terlihat manis dengan rambut sebahu, kulit yang putih dan tai lalat kecil di pipi kirinya. Ia terlihat pintar dan senang membaca karena ia membawa sebuah novel yang sangat tebal seperti KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Rando tak lupa memperkenalkan Yana gadisnya kepada ayah dan ibu, ahirnya mereka bedua direstui.
Tiga tahun lamanya mereka berpacaran dan terlihat begitu harmonis, aku pun mulai mengenal cinta namun gadisku ini belum berani keperkenalkan pada ayah dan ibu, setiap hari Rando selalu mendesakku untuk mengenalkannya dengan gadisku itu, satu yang Rando tau bahwa aku sangat menyayangi gadisku itu. Aku duduk di sebuah kursi di pinggir danau bersama gadisku itu, dia sangat manis sehingga tak jemu ku memandangnya, kucium mesra keningnya lalu kami berjalan sambil kupegang erat tangannya mengelilingi danau, yang dipinggirnya ditanami pohon-pohon rindang bak atap alami yang melindungi kami dari gangguan matahari, yang ingin menjadi orang ketiga di antara kencan kami sore itu. Kubelai rambut lembutnya sambil berkata dalam hatiku “kau adalah gadisku….”.
Setahun hubungan kami berjalan namun aku harus memutuskannya sebelum ku sempat mengenalkannya pada Rando, ayah, dan Ibuku, kurasa memang tak perlu. Ku putus karena ku tau Rando akan segera melamar Yana untuk menjadi istrinya, kudukung keputusan Rando saudara kembarku itu dengan menunjukkan senyum bahagiaku disertai peluk hangat seorang saudara, namun dalam hati aku hancur, ingin rasanya kuberteriak dengan kencang sampai memutuskan urat leherku. Kesedihan ini bukan karena Rando harus melangkahiku sebagai kakaknya walaupun aku lebih tua 7 menit darinya, namun kesedihan ini karena kodrat ku sebagai anak kembar yang ternyata memiliki persamaan dalam hal hati dan selera pada seorang gadis, sehingga membuatku memadu kasih dengan Yana selama setahun tanpa sepengetahuannya. Dengan sepihak kuputuskan hubunganku dengan Yana karena saudaraku memang memiliki hak atas dirinya. Kubuang jauh-jauh perasaanku pada Yana selama ini, kuhapus semua kenangan itu.
Hari pernikahan Rando dan Yana pun tiba, Yana terlihat bahagia terlebih lagi Rando tak henti bibirnya menyunggingkan senyum. Yana memandangku dengan pandangan kosong, kualihkan pandanganku. Saat Rando memasangkan cicin ke jari manis Yana hati ku menjerit bagaikan ditusuk oleh paku berkarat, dan tak terasa air mataku malah mengalir deras di pipiku, segera kuusap agar tak terlihat alirannya membasahi pipiku. Yana melihatku kembali sebelum memasangkan cincin ke jari manis Rando, dan kembali ku membalikkan pandanganku, kupandangin wajah Rando yang bahagia. Pikirku Rando pantas mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya walaupun ia tidak tau bahwa gadis yang ada di hadapannya kini pernah kujamah.

Mataram, 23 Juni 2012

Jumat, 22 Juni 2012

PUISI "Kejujuran Hati"

yeee...!! ahirnya Blog sy g ngambul lagi.^^
jadinya sekarang bisa ngepost lagi deeeh....
hari niy sy mw ngepost puisi jaa. moga suka ya.. nyook langsung dibaca..


Kejujuran Hati

Hari niy kurasa cukup cerah jika kau hanya ingin melihat datangnya matahari
Cukup cerah jika kau hanya ingin melihat dedaunan memancarkan sinar indah terpaan matahari..
Cukup cerah ketika awan malu menampakkan dirinya ketika telah tersapu angin..
Cukup cerah ketika capung-capung terlihat jelas diantara rerumputan tak terawat..

Namun suasana cerah ini tak membuat ku bahagia karena menikmatinya
Jelas terasa hawa kematian memekik hingga tak terdengar nafas rumput di depan ku
Angin yang bertiup menggoyang kan dedaunan seakan membawa pesan dingin menusuk hati
Membuat kulitkku kering seperti padang savana di afrika

Ketika kita melihat dengan mata hati maka takkan sama dengan pengelihatan mata telanjangmu
Hati dapat merasakan lebih dari yang dirasakan ragamu
Dan mata hanya berbayang semu
Tak selamanya matahari membawa bahagia karena kau tak pernah tau kabut tebal justru membawa kehangatan..

                                                          Mataram, 24 Mei 2012

Kamis, 21 Juni 2012

nangis guling-guling.... blog sy kenapa lagi niy.. ckckck knapa malah jadi gak bisa ganti background.!
terpaksa dh wrnanya jadi seadanya dulu smpe sy bisa nanganin blog sy yang gi ngambul...
ya udh baca ja ya postingan sy hari niy.
moga suka..^^ jangan lupa coment.. awas lo gak coment...!! wkwkkwkw....

Senin, 18 Juni 2012

CERPEN "Keadaan Memaksaku Untuk Bersahabat dengan Alam Semesta"


Assalamualaikum Wr. Wb..
nyeong chingudeulku semuaaaa... kangeen dech.. ahirnya sy bisa ngepost lagi niy. kemaren da temen sy yg naxak Nul *panggilan sy di kampus* kok g pernah ngepost lagi... heee sy cma nyengir. gara-gara dari hari senen kemaren ntu sy dh mulai semsteran tuh jadi dosen2 dh kyak lomba balap karung pada ngasik tugas bjibuuun... ckckck niy ja belom kelar semua. tapi berhubung kemarin sy g mood belajar n g mood ngerjain tgs juga ahirnya di hump sy ngambang gaje.. kalian bayangin dah rupa sy kemarin dh kyak mayat hidup.. alhasil sy iseng2 nulis niy cerpen.. hehhee... cerpen niy terispirasi dr rumah sy sendiri.. gra2nya kan sekrang hump sy gi direnov. soo dari dalam kamar tu bisa liat langit gra2 gentengnya dh mulai diturunin.. jadinya sy bikin dh cerpen niy dengan sedikit mendramatisir keadaan... wkwkkw. mending lagsung dibaca ajja yaaa moga suka,,, amiiiinnn^^ jangan lupa coment wookeeh..^^

Keadaan Memaksaku Untuk Bersahabat dengan Alam Semesta

Hari ini seperti biyasanya matahari menyengat memancarkan cahayanya, kulihat semuanya jadi terang karena pancaran cahanya yang berwarna putih membuat seisi kamarku bagaikan diterangi lampu 100 watt. Kadang warna itu berubah menjadi biru, hijau, kadang juga berwarna coklat seperti warna kesukaannku, itu karena matahari seringkali bermain ke kamarku.
Di ranjang reotku, sering kuliahat cahanya menyentuh kulitku yang berwarna sawo matang, entah kenapa aku memang menyukai warna coklat, sehingga aku sangat bersyukur ketika mendapatkan bagian warna kulit ini oleh sang Maha Pencipta. Allah memang tahu warna kesukaanku atau memang warna kulit ini karena ku sudah terbiyasa bermain dengan matahari yang selalu menyambangi kamarku. Aku sangat terbiyasa dengan bau matahari.. mmm tapi aku lebih suka menyebutnya ‘aroma matahari’ , aromanya sangat indah, mungkin bagi orang lain matahari membuat hari-hari mereka berkeringat tapi untukku matahari menggores senyuman di bibirku.
Aku tak hanya bersahabat dengan matahari, namun juga dengan bintang-bintang di langit, apapun yang mereka kerjakan di atas sana aku selalu bisa memantaunya, gerak-geriknya salalu menjadi objek pengamatanku tak jarang kulihat salah satu bintang memiliki pipi yang memerah ketika melihat bintang yang lain, dalam hati kufikir mungkin bintang itu sedang jatuh cinta hehe.. . Kadang aku suka tertawa geli melihat tingkah laku bintang tersebut. Sehingga ketika bintang itu mengetahui bahwa aku melihat tingkahnya dia akan berbisik padaku dan berkata “ini rahasia yaaa”. Jika dihitung sampai umurku yang sudah 17 tahun ini entah berapa rahasia yang sudah aku jaga karena tingkah mereka yang menggelikan, sampai-sampai bulan juga malu menampakkan dirinya di lubang mataku. “mungkin dia juga mempunyai rahasia besar yang tidak boleh ku tahu” fikirku.
Saat musim hujan tak jarang ranjang reotku berubah menjadi danau penampung air hujan, sehingga membuat seprei ku yang berwarna putih polos mendapat bercak warna coklat, tapi itu bukan hasil karya liurku yang bermain-main keluar dari mulutku saat kutertidur, melainkan itu perbuatan si hujan. Aku tidak pernah marah kepadanya karena membuat corak-corak tak beraturan di seprei polosku yang berwarna putih. Mungkin hujan tau kalau aku memang menyukai warna coklat, sehingga setiap kedatangannya selalu menghadiahiku warna coklat yang membentang berbentuk bulat di seprei putih polosku. Tapi terus terang aku kurang suka dengan warna coklat yang satu ini, sehingga terpaksa aku bangun pagi-pagi dan pergi ke sungai untuk mencuci sepreiku itu. Aku sengaja pergi di waktu pagi karena sahabatku si hujan biyasanya datang saat siang hari hingga sore hari, terkadang jika ia memang terlalu merindukankku bisa sampai malam hari ia betah bermain di kamarku. Aku tak ingin mengecewakannya karena hadiah kecilnya harus kuhilangkan bersama aliran air sungai.
“Kamu lupa lagi menaruh baskom di atas kasurmu Jon?” terdengar suara Rani sahabatku. Rani adalah anak dari bik Salmah yang rumahnnya di belakang rumahku, aku biyasa dipanggil ‘Jon’ olehnya sehingga terdengar seperti nama anak laki-laki, karena namaku Sri Jona. Sebenarnya namaku akan terdengar keren kalau dia memanggil lengkap namaku dengan panggilan Jona, sehingga akan terdengar seperti nama artis-artis di TV, nama itu disematkan oleh ayahku, yang memang berasal dari keluarga berada karena bisnisnya yang terkenal hingga luar negeri. Namun ayahku meninggal di saat usiaku 5 tahun karena penyakit yang tidak tau asal-usulnya. Tersebar berita kalu ayahku meninggal karena disantet orang, mungkin orang itu iri karena bisnis besar ayahku, ahirnya aku tinggal berdua dengan ibuku. Ibu berusaha melanjutkan usaha ayahku namun 3 tahun bisnis itu berjalan dengan terseok-seok karena kondisi yang semakin rumit sepeninggal ayah. Dan ahirnya bisnis itu bangkrut, akupun kecipratan dampak bangkrutnya bisnis itu yang menyebabkan kuputus sekolah saat aku baru mengenal baca tulis di kelas 3 SD. Ahirnya ibuku bunuh diri karena setres berat, aku tidak marah kepadanya karena dia harus meninggalkanku mungkin hidup ini terlalu keji untuknya, sehingga dengan berat hati kuterima salam perpisahannya. Kini aku tinggal dengan nenek dan kakekku di desa yang jauh dari hingar bingar kota tempat di mana kebahagiaan yang telah lama hilang kini kurasa kembali di dalam hati ku.
Di desa ini aku tinggal di sebuah rumah yang sebenarnya sudah tidak layak untuk ditinggali, tapi apa mau dikata, kakek dan nenek sudah tua renta kufikir mau kubawa ke mana mereka untuk mendapat tempat tinggal yang baru, sehingga aku mengumpulkan uang dari hasilku bertani dengan kakek untuk membeli genteng satu-persatu menggantikan genteng-genteng yang sudah bocor di rumah, yang menyebabkan aku harus bersahabat dengan matahari di siang hari karena aku selalu melihatnya dari atas ranjang tempat tidurku. Tak jarang kugantungkan baju kaosku yang berwarna biru di atas tempat tidurku yang kupentangkan tali agar cahaya matahari tak bebas membuat kulitku yang berwarna sawo matang makin berwarna cokat. Kadang juga kugantungkan selendang berwarna hijau milik nenek, dan selendang warna coklat peninggalan ibuku. Baju kaosku yang berwarna biru, dan selendang warna hijau milik nenek serta selendang peninggalan ibu itu membuat kamarku menjadi warna-warni tertembak cahaya matahari. Aku juga berteman dengan bintang karena selalu melihat mereka dari atap rumahku yang berluabang besar karena gentengnnya yang bocor itu,  namun kubilang “tak apalah, mereka jadi bisa menemani tidurku”. Aku jadi kalang kabut jika musim hujan datang, atap yang bocor sering kali membuat peta warna coklat di seprei polosku sehingga pagi-pagi aku harus ke sungai untuk mencucinya.
“Huwaaa!!” aku terkaget saat muka Rani sahabatku berada pas di depan muka ku, “kok ngelamun?!” tegurnya, aku baru sadar ternyata belum menjawab pertanyaannya dari tadi. “iya Ran, tadi malem aku tidur sangat pulas sehingga aku baru sadar kalau hujan sudah lama mengguyur kasurku”. “Ya sudah kubantu mencucinya” dengan senyumnya yang lebar Rani terlihat cantik karena gigi gingsulnya yang bersarang di sebelang kiri terlihat jelas membuat gadis ini sangat manis.  Ahirnya Rani membantuku mencuci seprei putih polosku itu sambil bercanda di pinggir sungai. Kami sangat bahagia walaupun hal ini sangat sering kami lakukan karena aku yang selalu lupa meletakkan baskom di atas tempat tidurku untuk menangkap air hujan yang masuk ke kamarku. Aku tak heran hal sekecil ini bisa membuatku bahagia, mungkin karena memang aku tak pernah menikmati kebahagiaan lebih dari ini sepangjang hidupku.

husnul imnida^^
mataram, 18 Juni 2012