The
Tale of Two Continents
Satu rasa dua kematian
Satu kasih dan dua kesetiaan
Antara benua dan benua
Tertunggu rindu samudra
Satu kasih dan dua kesetiaan
Antara benua dan benua
Tertunggu rindu samudra
Dua kota satu kekosongan
Dua alamat satu kehilangan
Antara nyiur dan salju
Merentang ketakpedulian tuju
Dua alamat satu kehilangan
Antara nyiur dan salju
Merentang ketakpedulian tuju
Semoga kasih tahu jalan kembali
Pada pintu yang membuka dinihari
Ke mana angin membawa diri
Pada pintu yang membuka dinihari
Ke mana angin membawa diri
Kekasih, semoga kau
Dapat kepenuhan cinta dalam aku tiada
Terpecah dua benua, suatu kelupaan di sisik samudra
Dapat kepenuhan cinta dalam aku tiada
Terpecah dua benua, suatu kelupaan di sisik samudra
~(Sitor Situmorang)~
Kebohongan yang Indah dalam Puisi The Tale of Two Continents
Karya Sitor Situmorang
(Tinjauan Impresionalistik)
I. Pendahuluan
Sitor Situmorang adalah salah satu penyair Indonesia
angkatan ‘45 yang karyanya melegenda di negeri kelahirannya. Namun tentu setiap
pengarang memiliki ciri khas bahasanya sendiri. Sapardi Djoko Damono selalu
menampilkan puisinya dengan bait-bait yang pendek namun maknanya sangat kuat, terkadang
sedikit sulit untuk memahami puisi karya penyair satu ini, namun tidak jarang
puisinya sangat panjang bahkan terlalu panjang seperti “Sajak Nopember.” Berbeda lagi dengan Chairil Anwar yang mengisi
karyanya dengan puisi semangat pergerakan yang mencoba membangkitkan semangat
generasi muda, bahkan di dalam puisi cintanya semangat pergerakan tersebut
masih terasa. Berbeda halnya dengan Kahlil Gibran yang terkenal karena puisi
cintanya yang mengalun dengan indah. Maka Sitor Situmorang hadir dengan bahasa
puisi antara dunia timur dan dunia barat. Sitor menghabiskan 20 tahun hidupnya
di Paris dan Belanda sebagai dosen di Universitas Leiden. Hal ini tentu
berpengaruh besar terhadap karya Sitor, maka tidak jarang beberapa karya sastra
Sitor menggunakan judul dalam bahasa asing. Bentuk puisi
Sitor banyak berkiblat kepada puisi lama seperti pantun, dan syair. Pengaruh
sastra Eropa “The Tale of Two Continents” yang ditulis oleh Baudelaire
juga turut mempengaruhi karya-karya Sitor, terutama dalam hal pemilihan
struktur kebahasaan seperti lambang, kiasan, dan diksi. Hal itulah yang membuat
banyak sastrawan menganggap sosok Sitor sebagai penyair liris pendebah
kesepian, keterasingan dalam bentuk-bentuk simbolis.
II. Judul Puisi
Sitor Situmorang adalah salah satu penyair Indonesia yang
beberapa karyanya menggunakan bahasa asing sebagai judulnya seperti : Amoy-Aimee, Chathedrale de Chartres, dan tentu saja The Tale of Two Continents yang berhasil menggiring saya untuk
mendalami makananya. Seorang penyair berusaha untuk merangkai kata-kata yang
paling indah sebagai judul dari karyanya karena judul bagi seorang penyair
adalah sebuah harga mati untuk hidup atau mati karyanya. Terkadang judul yang
dibuat oleh seorang penyair berhubungan lurus dengan isi dari puisi yang
ditulisnya, untuk benar-benar menjiwain judul terkadang penyair menggunakan
kata-kata dalam judul sebagai bahan baku utama dalam penyusunan setiap larik
puisinya, seperti puisi karya Korrie Layun Rampan yang berjudul “Kutulis”. Puisi
tersebut hadir dengan tiga bait yang setiap baitnya selalu diawali dengan kata
“kutulis”. Ada pula puisi yang ingin menjiwai judulnya namun dengan teknik yang
sedikit berbeda dengan teknik yang digunakan oleh Korrie Layun Rampan yang
menggunakan judul sebagai bahan baku larik puisinya, maka puisi karya Chairil
Anwar menggunakan sinonim dari judul sebagai bahan baku larik puisinya yang
berjudul “Hampa” dengan menggunakan kata “Sepi” sebagai sinonimnya yang
bertugas memberi efek lebih dekat dengan judul namun tidak terkesan kehabisan
kata-kata. Penyair memang harus cerdik dalam memainkan kata-kata walaupun kata
tersebut tidak asing di telinga pembaca namun tetap terkesan mewah.
Sitor memiliki caranya sendiri dalam menuliskan judul salah
satunya dengan menggunakan bahasa asing, mungkin karena Sitor telah
menghabisakan 20 tahun hidupnya di negeri orang membuatnya tertarik menghiasi
puisinya tidak hanya dengan bahasa negeri kelahirannya tetapi juga dengan
bahasa negeri rantauannya. Jika Sitor menggunakan judul “The Tale of Two Continents” sebagai upayanya untuk bercerita
tentang seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya namun seseorang itu telah
memiliki orang lain, berbeda dengan gaya Chairil Anwar yang memilih menggunakan
berbagai judul dalam puisi-puisinya, serta selalu menyelipkan pesan bahwa puisi
yang ditulisnya untuk seseorang yang bernama Sri Ajatun. Namun kita tidak bisa
mengatakan bahwa Chairil Anwar lebih jantan dalam segi pengungkapan judul
daripada Sitor, karena kita tidak pernah tahu bagaimana perjuangan pengarang
dalam memilih judul yang terbaik untuk karyanya.
III. Bukan Penghianatan tetapi Cinta
Bertepuk Sebelah Tangan
Dalam puisi The Tale
of Two Continents ini pembaca dipaksa untuk memahami puisi tersebut sebagai
sebuah puisi penghianatan cinta, yang kenyataannya cinta yang dikisahkan memang
telah memiliki pelabuhannya dan Sitor sebagai pelabuhan yang lain tidak pernah
menerima balasan cinta dari sang wanita. Karena dalam puisi tersebut Sitor atau
siapa pun yang merasa dihianati dalam puisi itu memang lebih dahulu membuka
pelabuhan cintanya terhadap seseorang yang dikaguminya, namun sedekat apa pun
Sitor dalam puisi tersebut dengan sang wanita, masih belum bisa dipastikan
terjadi hubungan yang special di antara mereka karena makna dari petikan larik
berikut / Semoga kasih tahu jalan kembali/
yaitu bisa jadi seseorang itu hanya teman dekat yang posisinya terlalu spesial di hati Sitor,
dan bagi seorang Sitor wanita itu adalah cinta pertamanya yang dibuktikan dalam
larik berikut / Pada pintu yang membuka
dinihari/.
IV. The Tale of Third Continents
Keindahan sebuah karya seni selalu diwakilkan oleh penulisan
judul yang bisa menarik perhatian pembacanya, judul mengambil andil besar
terhadap suksesnya sebuah karya menyedot animo masyarakat. Judul adalah sebuah
kalimat yang mewakili isi dari sebuah novel atau puisi. Misalnya saja pada
beberapa puisi karya Sitor yang berjudul Matahari
Minggu yang bercerita tentang hari minggu yang panas saat pertemuannya
dengan seseorang di jantung kota, kemudian puisinya yang berjudul Surat Kertas Hijau yang menceritakan
saat seseorang mendapatkan spucuk surat pada musim semi saat bunga baru tumbuh
dengan daun hijau. Begitu pula dengan
puisi Korrie Layun Rampan yang berjudul
Kutulis yang sudah bisa dipastikan isinya tentang tulisan hasil curahan
hati Korrie, apalagi di setiap awal bait dalam puisinya selalu diawalai dengan
kata “kutulis”. Memang sedemikian besar peran judul dalam menggerakkan pikiran
pembaca untuk menangkap isi dari sebuah puisi. Namun ada pula puisi yang
berbohong dengan judulnya misalnya puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Sajak Putih, dalam sajak tersebut Chairil
mengawali puisinya dengan rayuan dan pujian, ditengahi dengan janji sehidup semati
yang bahkan kematian pun tak mampu memisahkan, lalu diakhiri dengan pengakuan
cinta adalah untuk saling memberi dan menerima. Tidak ada sedikit pun terbersit
dalam setiap larik puisi tersebut yang menyoroti permainan warna yang ada di
benak pembaca tatkala membaca judul puisinya yaitu Sajak Putih, namun yang bisa diambil hikmah dari puisi ini adalah
bahwa sesuatu yang putih memang tidak selamanya mewakili sebuah warna, tetapi
sesuatu yang putih sesungguhnya mewakili niat dari hati yang bersih untuk
merajut cinta dengan sang dambaan hati.
Puisi Sitor Situmorang yang berjudul The Tale of Two Continents juga turut melakukan kebohongan serupa
karena isi dari puisi tersebut bukan berbicara mengenai dua benua seperti yang
digadang dalam judul bahasa asingnya. Tetapi puisi tersebut lebih banyak
bercerita tentang posisi Sitor sebagai benua ketiga dalam sebuah hubungan yang
telah pasti antara benua yang lain, hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut
/ Antara benua dan benua/, hal ini
semakin memperkuat bahwa yang dibicarakan dalam puisi tersebut bukan hanya dua
benua, tetapi lebih dari dua benua. Posisi Sitor yaitu sebagai seseorang yang memberikan
cintanya namun cinta itu tidak terbalaskan, seperti dalam kutipan berikut / Satu kasih dan dua kesetiaan/ yang
berarti sang wanita tersebut memperoleh dua kesetiaan dari dua benua yang
berbeda dan salah satu dari dua benua tersebut tentu adalah Sitor, namun sang
wanita hanya memberikan satu kasihnya dan itu tidak ditujukan kepada Sitor.
Begitu pula pada larik berikutnya yang
berbunyi / Dua kota satu
kekosongan/ Dua alamat satu kehilangan/. Hingga pada bait-bait terahir
puisinya Sitor menginginkan wanita itu kembali kepadanya, walaupun ahirnya ia
merelakan wanita itu dengan seseorang yang dicintainya.
Hal inilah yang Sitor siratkan dalam puisinya, ia tidak
gamblang mengumbar cintanya yang tidak berbalas namun pembaca sendirilah yang
harus membuka hati untuk memahami maksud dari penyair. Dan justru kebohongan
ini yang membuat puisi karya Sitor lebih mengugah rasa penasaran dalam diri
pembaca karena terkadang kebohongan memang diperlukan dalam sebuah karya
sastra. Kebohongan itu bisa ditolerir jika pada akhirnya kebohongan itu memberi
dampak keindahan dan tentu hal ini bisa dimaklumi jika pada ahirnya kita
menemukan sebuah karya dengan kejujuran yang membosankan di dalamnya. Namun
kita tidak bisa mengatakan bahwa karya seni adalah kebohongan bagi masyarakat. Tetapi
karya seni adalah sebuah kejutan yang tidak akan pernah kita ketahui maknanya
hanya dalam satu kali membacanya. Kau harus membaca sebuah karya seni itu
berulang-ulang sampai akhirnya kau akan menemukan nilai keindahan di dalamnya.
Semakin keras usahamu untuk menemukan keindahan di dalamnya maka keindahan itu
akan semakin bernilai.
V. Kesimpulan
Sitor Situmorang adalah salah satu penyair Indonesia yang
namanya sudah tidak asing lagi di telinga penikmat karya sastra. Sitor hadir
memberikan warna baru pada dunia seni Indonesia dengan karya-karyanya yang mengawinkan
unsur barat dan timur menjadi sebuah kesatuan yang patut untuk diapresiasi.
The Tale of Two Continents adalah salah satu karya Sitor yang
mencoba menghadirkan sedikit nuansa barat dalam puisinya tersebut. Puisi ini
memiliki banyak makna yang tersirat di dalamnya, ada banyak perasaan yang ingin
dituangkan Sitor melalui pembicaraan dua benua dalam puisinya, mulai dari
kesedihan hingga keikhlasan.
Terlepas dari pembicaraan benua kedua atau ketiga yang
menjadi tujuan penulisan puisi tersebut, bahwa setiap penyair pasti memiliki
tujuan yang sama dalam penulisan karyanya yaitu ingin memberikan hadiah nilai
bagi para pembaca, karena sejatinya karya seni tidak lahir dari sebuah
kekosongan.
VI. Daftar Pustaka
http://syairsyiar.blogspot.com/2008/06/puisi-cinta-chairil-anwar-puisi-cinta_24.html
http://anas-catatantangandiufuksenja.blogspot.com/2011/01/memahami-puisi-melalui-aliran.html