Senin, 18 Juni 2012

CERPEN "Keadaan Memaksaku Untuk Bersahabat dengan Alam Semesta"


Assalamualaikum Wr. Wb..
nyeong chingudeulku semuaaaa... kangeen dech.. ahirnya sy bisa ngepost lagi niy. kemaren da temen sy yg naxak Nul *panggilan sy di kampus* kok g pernah ngepost lagi... heee sy cma nyengir. gara-gara dari hari senen kemaren ntu sy dh mulai semsteran tuh jadi dosen2 dh kyak lomba balap karung pada ngasik tugas bjibuuun... ckckck niy ja belom kelar semua. tapi berhubung kemarin sy g mood belajar n g mood ngerjain tgs juga ahirnya di hump sy ngambang gaje.. kalian bayangin dah rupa sy kemarin dh kyak mayat hidup.. alhasil sy iseng2 nulis niy cerpen.. hehhee... cerpen niy terispirasi dr rumah sy sendiri.. gra2nya kan sekrang hump sy gi direnov. soo dari dalam kamar tu bisa liat langit gra2 gentengnya dh mulai diturunin.. jadinya sy bikin dh cerpen niy dengan sedikit mendramatisir keadaan... wkwkkw. mending lagsung dibaca ajja yaaa moga suka,,, amiiiinnn^^ jangan lupa coment wookeeh..^^

Keadaan Memaksaku Untuk Bersahabat dengan Alam Semesta

Hari ini seperti biyasanya matahari menyengat memancarkan cahayanya, kulihat semuanya jadi terang karena pancaran cahanya yang berwarna putih membuat seisi kamarku bagaikan diterangi lampu 100 watt. Kadang warna itu berubah menjadi biru, hijau, kadang juga berwarna coklat seperti warna kesukaannku, itu karena matahari seringkali bermain ke kamarku.
Di ranjang reotku, sering kuliahat cahanya menyentuh kulitku yang berwarna sawo matang, entah kenapa aku memang menyukai warna coklat, sehingga aku sangat bersyukur ketika mendapatkan bagian warna kulit ini oleh sang Maha Pencipta. Allah memang tahu warna kesukaanku atau memang warna kulit ini karena ku sudah terbiyasa bermain dengan matahari yang selalu menyambangi kamarku. Aku sangat terbiyasa dengan bau matahari.. mmm tapi aku lebih suka menyebutnya ‘aroma matahari’ , aromanya sangat indah, mungkin bagi orang lain matahari membuat hari-hari mereka berkeringat tapi untukku matahari menggores senyuman di bibirku.
Aku tak hanya bersahabat dengan matahari, namun juga dengan bintang-bintang di langit, apapun yang mereka kerjakan di atas sana aku selalu bisa memantaunya, gerak-geriknya salalu menjadi objek pengamatanku tak jarang kulihat salah satu bintang memiliki pipi yang memerah ketika melihat bintang yang lain, dalam hati kufikir mungkin bintang itu sedang jatuh cinta hehe.. . Kadang aku suka tertawa geli melihat tingkah laku bintang tersebut. Sehingga ketika bintang itu mengetahui bahwa aku melihat tingkahnya dia akan berbisik padaku dan berkata “ini rahasia yaaa”. Jika dihitung sampai umurku yang sudah 17 tahun ini entah berapa rahasia yang sudah aku jaga karena tingkah mereka yang menggelikan, sampai-sampai bulan juga malu menampakkan dirinya di lubang mataku. “mungkin dia juga mempunyai rahasia besar yang tidak boleh ku tahu” fikirku.
Saat musim hujan tak jarang ranjang reotku berubah menjadi danau penampung air hujan, sehingga membuat seprei ku yang berwarna putih polos mendapat bercak warna coklat, tapi itu bukan hasil karya liurku yang bermain-main keluar dari mulutku saat kutertidur, melainkan itu perbuatan si hujan. Aku tidak pernah marah kepadanya karena membuat corak-corak tak beraturan di seprei polosku yang berwarna putih. Mungkin hujan tau kalau aku memang menyukai warna coklat, sehingga setiap kedatangannya selalu menghadiahiku warna coklat yang membentang berbentuk bulat di seprei putih polosku. Tapi terus terang aku kurang suka dengan warna coklat yang satu ini, sehingga terpaksa aku bangun pagi-pagi dan pergi ke sungai untuk mencuci sepreiku itu. Aku sengaja pergi di waktu pagi karena sahabatku si hujan biyasanya datang saat siang hari hingga sore hari, terkadang jika ia memang terlalu merindukankku bisa sampai malam hari ia betah bermain di kamarku. Aku tak ingin mengecewakannya karena hadiah kecilnya harus kuhilangkan bersama aliran air sungai.
“Kamu lupa lagi menaruh baskom di atas kasurmu Jon?” terdengar suara Rani sahabatku. Rani adalah anak dari bik Salmah yang rumahnnya di belakang rumahku, aku biyasa dipanggil ‘Jon’ olehnya sehingga terdengar seperti nama anak laki-laki, karena namaku Sri Jona. Sebenarnya namaku akan terdengar keren kalau dia memanggil lengkap namaku dengan panggilan Jona, sehingga akan terdengar seperti nama artis-artis di TV, nama itu disematkan oleh ayahku, yang memang berasal dari keluarga berada karena bisnisnya yang terkenal hingga luar negeri. Namun ayahku meninggal di saat usiaku 5 tahun karena penyakit yang tidak tau asal-usulnya. Tersebar berita kalu ayahku meninggal karena disantet orang, mungkin orang itu iri karena bisnis besar ayahku, ahirnya aku tinggal berdua dengan ibuku. Ibu berusaha melanjutkan usaha ayahku namun 3 tahun bisnis itu berjalan dengan terseok-seok karena kondisi yang semakin rumit sepeninggal ayah. Dan ahirnya bisnis itu bangkrut, akupun kecipratan dampak bangkrutnya bisnis itu yang menyebabkan kuputus sekolah saat aku baru mengenal baca tulis di kelas 3 SD. Ahirnya ibuku bunuh diri karena setres berat, aku tidak marah kepadanya karena dia harus meninggalkanku mungkin hidup ini terlalu keji untuknya, sehingga dengan berat hati kuterima salam perpisahannya. Kini aku tinggal dengan nenek dan kakekku di desa yang jauh dari hingar bingar kota tempat di mana kebahagiaan yang telah lama hilang kini kurasa kembali di dalam hati ku.
Di desa ini aku tinggal di sebuah rumah yang sebenarnya sudah tidak layak untuk ditinggali, tapi apa mau dikata, kakek dan nenek sudah tua renta kufikir mau kubawa ke mana mereka untuk mendapat tempat tinggal yang baru, sehingga aku mengumpulkan uang dari hasilku bertani dengan kakek untuk membeli genteng satu-persatu menggantikan genteng-genteng yang sudah bocor di rumah, yang menyebabkan aku harus bersahabat dengan matahari di siang hari karena aku selalu melihatnya dari atas ranjang tempat tidurku. Tak jarang kugantungkan baju kaosku yang berwarna biru di atas tempat tidurku yang kupentangkan tali agar cahaya matahari tak bebas membuat kulitku yang berwarna sawo matang makin berwarna cokat. Kadang juga kugantungkan selendang berwarna hijau milik nenek, dan selendang warna coklat peninggalan ibuku. Baju kaosku yang berwarna biru, dan selendang warna hijau milik nenek serta selendang peninggalan ibu itu membuat kamarku menjadi warna-warni tertembak cahaya matahari. Aku juga berteman dengan bintang karena selalu melihat mereka dari atap rumahku yang berluabang besar karena gentengnnya yang bocor itu,  namun kubilang “tak apalah, mereka jadi bisa menemani tidurku”. Aku jadi kalang kabut jika musim hujan datang, atap yang bocor sering kali membuat peta warna coklat di seprei polosku sehingga pagi-pagi aku harus ke sungai untuk mencucinya.
“Huwaaa!!” aku terkaget saat muka Rani sahabatku berada pas di depan muka ku, “kok ngelamun?!” tegurnya, aku baru sadar ternyata belum menjawab pertanyaannya dari tadi. “iya Ran, tadi malem aku tidur sangat pulas sehingga aku baru sadar kalau hujan sudah lama mengguyur kasurku”. “Ya sudah kubantu mencucinya” dengan senyumnya yang lebar Rani terlihat cantik karena gigi gingsulnya yang bersarang di sebelang kiri terlihat jelas membuat gadis ini sangat manis.  Ahirnya Rani membantuku mencuci seprei putih polosku itu sambil bercanda di pinggir sungai. Kami sangat bahagia walaupun hal ini sangat sering kami lakukan karena aku yang selalu lupa meletakkan baskom di atas tempat tidurku untuk menangkap air hujan yang masuk ke kamarku. Aku tak heran hal sekecil ini bisa membuatku bahagia, mungkin karena memang aku tak pernah menikmati kebahagiaan lebih dari ini sepangjang hidupku.

husnul imnida^^
mataram, 18 Juni 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar