Assalamualaikum Wr. Wb..
nyeong chingudeulku semuaaaa... kangeen dech.. ahirnya sy bisa ngepost lagi niy. kemaren da temen sy yg naxak Nul *panggilan sy di kampus* kok g pernah ngepost lagi... heee sy cma nyengir. gara-gara dari hari senen kemaren ntu sy dh mulai semsteran tuh jadi dosen2 dh kyak lomba balap karung pada ngasik tugas bjibuuun... ckckck niy ja belom kelar semua. tapi berhubung kemarin sy g mood belajar n g mood ngerjain tgs juga ahirnya di hump sy ngambang gaje.. kalian bayangin dah rupa sy kemarin dh kyak mayat hidup.. alhasil sy iseng2 nulis niy cerpen.. hehhee... cerpen niy terispirasi dr rumah sy sendiri.. gra2nya kan sekrang hump sy gi direnov. soo dari dalam kamar tu bisa liat langit gra2 gentengnya dh mulai diturunin.. jadinya sy bikin dh cerpen niy dengan sedikit mendramatisir keadaan... wkwkkw. mending lagsung dibaca ajja yaaa moga suka,,, amiiiinnn^^ jangan lupa coment wookeeh..^^
Keadaan
Memaksaku Untuk Bersahabat dengan Alam Semesta
Hari ini
seperti biyasanya matahari menyengat memancarkan cahayanya, kulihat semuanya
jadi terang karena pancaran cahanya yang berwarna putih membuat seisi kamarku
bagaikan diterangi lampu 100 watt. Kadang warna itu berubah menjadi biru,
hijau, kadang juga berwarna coklat seperti warna kesukaannku, itu karena
matahari seringkali bermain ke kamarku.
Di
ranjang reotku, sering kuliahat cahanya menyentuh kulitku yang berwarna sawo
matang, entah kenapa aku memang menyukai warna coklat, sehingga aku sangat
bersyukur ketika mendapatkan bagian warna kulit ini oleh sang Maha Pencipta. Allah
memang tahu warna kesukaanku atau memang warna kulit ini karena ku sudah
terbiyasa bermain dengan matahari yang selalu menyambangi kamarku. Aku sangat
terbiyasa dengan bau matahari.. mmm tapi aku lebih suka menyebutnya ‘aroma
matahari’ , aromanya sangat indah, mungkin bagi orang lain matahari membuat
hari-hari mereka berkeringat tapi untukku matahari menggores senyuman di bibirku.
Aku tak
hanya bersahabat dengan matahari, namun juga dengan bintang-bintang di langit,
apapun yang mereka kerjakan di atas sana aku selalu bisa memantaunya,
gerak-geriknya salalu menjadi objek pengamatanku tak jarang kulihat salah satu
bintang memiliki pipi yang memerah ketika melihat bintang yang lain, dalam hati
kufikir mungkin bintang itu sedang jatuh cinta hehe.. . Kadang aku suka tertawa
geli melihat tingkah laku bintang tersebut. Sehingga ketika bintang itu
mengetahui bahwa aku melihat tingkahnya dia akan berbisik padaku dan berkata
“ini rahasia yaaa”. Jika dihitung sampai umurku yang sudah 17 tahun ini entah
berapa rahasia yang sudah aku jaga karena tingkah mereka yang menggelikan, sampai-sampai
bulan juga malu menampakkan dirinya di lubang mataku. “mungkin dia juga
mempunyai rahasia besar yang tidak boleh ku tahu” fikirku.
Saat
musim hujan tak jarang ranjang reotku berubah menjadi danau penampung air
hujan, sehingga membuat seprei ku yang berwarna putih polos mendapat bercak
warna coklat, tapi itu bukan hasil karya liurku yang bermain-main keluar dari
mulutku saat kutertidur, melainkan itu perbuatan si hujan. Aku tidak pernah
marah kepadanya karena membuat corak-corak tak beraturan di seprei polosku yang
berwarna putih. Mungkin hujan tau kalau aku memang menyukai warna coklat,
sehingga setiap kedatangannya selalu menghadiahiku warna coklat yang membentang
berbentuk bulat di seprei putih polosku. Tapi terus terang aku kurang suka
dengan warna coklat yang satu ini, sehingga terpaksa aku bangun pagi-pagi dan
pergi ke sungai untuk mencuci sepreiku itu. Aku sengaja pergi di waktu pagi
karena sahabatku si hujan biyasanya datang saat siang hari hingga sore hari,
terkadang jika ia memang terlalu merindukankku bisa sampai malam hari ia betah
bermain di kamarku. Aku tak ingin mengecewakannya karena hadiah kecilnya harus
kuhilangkan bersama aliran air sungai.
“Kamu
lupa lagi menaruh baskom di atas kasurmu Jon?” terdengar suara Rani sahabatku.
Rani adalah anak dari bik Salmah yang rumahnnya di belakang rumahku, aku biyasa
dipanggil ‘Jon’ olehnya sehingga terdengar seperti nama anak laki-laki, karena
namaku Sri Jona. Sebenarnya namaku akan terdengar keren kalau dia memanggil
lengkap namaku dengan panggilan Jona, sehingga akan terdengar seperti nama
artis-artis di TV, nama itu disematkan oleh ayahku, yang memang berasal dari
keluarga berada karena bisnisnya yang terkenal hingga luar negeri. Namun ayahku
meninggal di saat usiaku 5 tahun karena penyakit yang tidak tau asal-usulnya. Tersebar
berita kalu ayahku meninggal karena disantet orang, mungkin orang itu iri
karena bisnis besar ayahku, ahirnya aku tinggal berdua dengan ibuku. Ibu
berusaha melanjutkan usaha ayahku namun 3 tahun bisnis itu berjalan dengan
terseok-seok karena kondisi yang semakin rumit sepeninggal ayah. Dan ahirnya
bisnis itu bangkrut, akupun kecipratan dampak bangkrutnya bisnis itu yang
menyebabkan kuputus sekolah saat aku baru mengenal baca tulis di kelas 3 SD. Ahirnya
ibuku bunuh diri karena setres berat, aku tidak marah kepadanya karena dia harus
meninggalkanku mungkin hidup ini terlalu keji untuknya, sehingga dengan berat
hati kuterima salam perpisahannya. Kini aku tinggal dengan nenek dan kakekku di
desa yang jauh dari hingar bingar kota tempat di mana kebahagiaan yang telah
lama hilang kini kurasa kembali di dalam hati ku.
Di desa
ini aku tinggal di sebuah rumah yang sebenarnya sudah tidak layak untuk
ditinggali, tapi apa mau dikata, kakek dan nenek sudah tua renta kufikir mau
kubawa ke mana mereka untuk mendapat tempat tinggal yang baru, sehingga aku
mengumpulkan uang dari hasilku bertani dengan kakek untuk membeli genteng satu-persatu
menggantikan genteng-genteng yang sudah bocor di rumah, yang menyebabkan aku
harus bersahabat dengan matahari di siang hari karena aku selalu melihatnya
dari atas ranjang tempat tidurku. Tak jarang kugantungkan baju kaosku yang
berwarna biru di atas tempat tidurku yang kupentangkan tali agar cahaya
matahari tak bebas membuat kulitku yang berwarna sawo matang makin berwarna
cokat. Kadang juga kugantungkan selendang berwarna hijau milik nenek, dan
selendang warna coklat peninggalan ibuku. Baju kaosku yang berwarna biru, dan
selendang warna hijau milik nenek serta selendang peninggalan ibu itu membuat
kamarku menjadi warna-warni tertembak cahaya matahari. Aku juga berteman dengan
bintang karena selalu melihat mereka dari atap rumahku yang berluabang besar
karena gentengnnya yang bocor itu, namun
kubilang “tak apalah, mereka jadi bisa menemani tidurku”. Aku jadi kalang kabut
jika musim hujan datang, atap yang bocor sering kali membuat peta warna coklat
di seprei polosku sehingga pagi-pagi aku harus ke sungai untuk mencucinya.
“Huwaaa!!”
aku terkaget saat muka Rani sahabatku berada pas di depan muka ku, “kok
ngelamun?!” tegurnya, aku baru sadar ternyata belum menjawab pertanyaannya dari
tadi. “iya Ran, tadi malem aku tidur sangat pulas sehingga aku baru sadar kalau
hujan sudah lama mengguyur kasurku”. “Ya sudah kubantu mencucinya” dengan
senyumnya yang lebar Rani terlihat cantik karena gigi gingsulnya yang bersarang
di sebelang kiri terlihat jelas membuat gadis ini sangat manis. Ahirnya Rani membantuku mencuci seprei putih
polosku itu sambil bercanda di pinggir sungai. Kami sangat bahagia walaupun hal
ini sangat sering kami lakukan karena aku yang selalu lupa meletakkan baskom di
atas tempat tidurku untuk menangkap air hujan yang masuk ke kamarku. Aku tak
heran hal sekecil ini bisa membuatku bahagia, mungkin karena memang aku tak
pernah menikmati kebahagiaan lebih dari ini sepangjang hidupku.
husnul imnida^^
mataram, 18 Juni 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar