Senin, 08 April 2013

ESSAI PUISI "The Tale of Two Continents"



The Tale of Two Continents
Satu rasa dua kematian
Satu kasih dan dua kesetiaan
Antara benua dan benua
Tertunggu rindu samudra
Dua kota satu kekosongan
Dua alamat satu kehilangan
Antara nyiur dan salju
Merentang ketakpedulian tuju
Semoga kasih tahu jalan kembali
Pada pintu yang membuka dinihari
Ke mana angin membawa diri
Kekasih, semoga kau
Dapat kepenuhan cinta dalam aku tiada
Terpecah dua benua, suatu kelupaan di sisik samudra
~(Sitor Situmorang)~
Kebohongan yang Indah dalam Puisi The Tale of Two Continents
Karya Sitor Situmorang


(Tinjauan Impresionalistik)
I. Pendahuluan
Sitor Situmorang adalah salah satu penyair Indonesia angkatan ‘45 yang karyanya melegenda di negeri kelahirannya. Namun tentu setiap pengarang memiliki ciri khas bahasanya sendiri. Sapardi Djoko Damono selalu menampilkan puisinya dengan bait-bait yang pendek namun maknanya sangat kuat, terkadang sedikit sulit untuk memahami puisi karya penyair satu ini, namun tidak jarang puisinya sangat panjang bahkan terlalu panjang seperti “Sajak Nopember.” Berbeda lagi dengan Chairil Anwar yang mengisi karyanya dengan puisi semangat pergerakan yang mencoba membangkitkan semangat generasi muda, bahkan di dalam puisi cintanya semangat pergerakan tersebut masih terasa. Berbeda halnya dengan Kahlil Gibran yang terkenal karena puisi cintanya yang mengalun dengan indah. Maka Sitor Situmorang hadir dengan bahasa puisi antara dunia timur dan dunia barat. Sitor menghabiskan 20 tahun hidupnya di Paris dan Belanda sebagai dosen di Universitas Leiden. Hal ini tentu berpengaruh besar terhadap karya Sitor, maka tidak jarang beberapa karya sastra Sitor menggunakan judul dalam bahasa asing. Bentuk puisi Sitor banyak berkiblat kepada puisi lama seperti pantun, dan syair. Pengaruh sastra Eropa “The Tale of Two Continents” yang ditulis oleh Baudelaire juga turut mempengaruhi karya-karya Sitor, terutama dalam hal pemilihan struktur kebahasaan seperti lambang, kiasan, dan diksi. Hal itulah yang membuat banyak sastrawan menganggap sosok Sitor sebagai penyair liris pendebah kesepian, keterasingan dalam bentuk-bentuk simbolis.

II. Judul Puisi
Sitor Situmorang adalah salah satu penyair Indonesia yang beberapa karyanya menggunakan bahasa asing sebagai judulnya seperti : Amoy-Aimee, Chathedrale de Chartres,  dan tentu saja The Tale of Two Continents yang berhasil menggiring saya untuk mendalami makananya. Seorang penyair berusaha untuk merangkai kata-kata yang paling indah sebagai judul dari karyanya karena judul bagi seorang penyair adalah sebuah harga mati untuk hidup atau mati karyanya. Terkadang judul yang dibuat oleh seorang penyair berhubungan lurus dengan isi dari puisi yang ditulisnya, untuk benar-benar menjiwain judul terkadang penyair menggunakan kata-kata dalam judul sebagai bahan baku utama dalam penyusunan setiap larik puisinya, seperti puisi karya Korrie Layun Rampan yang berjudul “Kutulis”. Puisi tersebut hadir dengan tiga bait yang setiap baitnya selalu diawali dengan kata “kutulis”. Ada pula puisi yang ingin menjiwai judulnya namun dengan teknik yang sedikit berbeda dengan teknik yang digunakan oleh Korrie Layun Rampan yang menggunakan judul sebagai bahan baku larik puisinya, maka puisi karya Chairil Anwar menggunakan sinonim dari judul sebagai bahan baku larik puisinya yang berjudul “Hampa” dengan menggunakan kata “Sepi” sebagai sinonimnya yang bertugas memberi efek lebih dekat dengan judul namun tidak terkesan kehabisan kata-kata. Penyair memang harus cerdik dalam memainkan kata-kata walaupun kata tersebut tidak asing di telinga pembaca namun tetap terkesan mewah.
Sitor memiliki caranya sendiri dalam menuliskan judul salah satunya dengan menggunakan bahasa asing, mungkin karena Sitor telah menghabisakan 20 tahun hidupnya di negeri orang membuatnya tertarik menghiasi puisinya tidak hanya dengan bahasa negeri kelahirannya tetapi juga dengan bahasa negeri rantauannya. Jika Sitor menggunakan judul “The Tale of Two Continents” sebagai upayanya untuk bercerita tentang seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya namun seseorang itu telah memiliki orang lain, berbeda dengan gaya Chairil Anwar yang memilih menggunakan berbagai judul dalam puisi-puisinya, serta selalu menyelipkan pesan bahwa puisi yang ditulisnya untuk seseorang yang bernama Sri Ajatun. Namun kita tidak bisa mengatakan bahwa Chairil Anwar lebih jantan dalam segi pengungkapan judul daripada Sitor, karena kita tidak pernah tahu bagaimana perjuangan pengarang dalam memilih judul yang terbaik untuk karyanya. 

III. Bukan Penghianatan tetapi Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
Dalam puisi The Tale of Two Continents ini pembaca dipaksa untuk memahami puisi tersebut sebagai sebuah puisi penghianatan cinta, yang kenyataannya cinta yang dikisahkan memang telah memiliki pelabuhannya dan Sitor sebagai pelabuhan yang lain tidak pernah menerima balasan cinta dari sang wanita. Karena dalam puisi tersebut Sitor atau siapa pun yang merasa dihianati dalam puisi itu memang lebih dahulu membuka pelabuhan cintanya terhadap seseorang yang dikaguminya, namun sedekat apa pun Sitor dalam puisi tersebut dengan sang wanita, masih belum bisa dipastikan terjadi hubungan yang special di antara mereka karena makna dari petikan larik berikut / Semoga kasih tahu jalan kembali/ yaitu bisa jadi seseorang itu hanya teman dekat  yang posisinya terlalu spesial di hati Sitor, dan bagi seorang Sitor wanita itu adalah cinta pertamanya yang dibuktikan dalam larik berikut / Pada pintu yang membuka dinihari/.

IV. The Tale of Third Continents
Keindahan sebuah karya seni selalu diwakilkan oleh penulisan judul yang bisa menarik perhatian pembacanya, judul mengambil andil besar terhadap suksesnya sebuah karya menyedot animo masyarakat. Judul adalah sebuah kalimat yang mewakili isi dari sebuah novel atau puisi. Misalnya saja pada beberapa puisi karya Sitor yang berjudul Matahari Minggu yang bercerita tentang hari minggu yang panas saat pertemuannya dengan seseorang di jantung kota, kemudian puisinya yang berjudul Surat Kertas Hijau yang menceritakan saat seseorang mendapatkan spucuk surat pada musim semi saat bunga baru tumbuh dengan daun hijau.  Begitu pula dengan puisi Korrie Layun Rampan yang berjudul Kutulis yang sudah bisa dipastikan isinya tentang tulisan hasil curahan hati Korrie, apalagi di setiap awal bait dalam puisinya selalu diawalai dengan kata “kutulis”. Memang sedemikian besar peran judul dalam menggerakkan pikiran pembaca untuk menangkap isi dari sebuah puisi. Namun ada pula puisi yang berbohong dengan judulnya misalnya puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Sajak Putih, dalam sajak tersebut Chairil mengawali puisinya dengan rayuan dan pujian, ditengahi dengan janji sehidup semati yang bahkan kematian pun tak mampu memisahkan, lalu diakhiri dengan pengakuan cinta adalah untuk saling memberi dan menerima. Tidak ada sedikit pun terbersit dalam setiap larik puisi tersebut yang menyoroti permainan warna yang ada di benak pembaca tatkala membaca judul puisinya yaitu Sajak Putih, namun yang bisa diambil hikmah dari puisi ini adalah bahwa sesuatu yang putih memang tidak selamanya mewakili sebuah warna, tetapi sesuatu yang putih sesungguhnya mewakili niat dari hati yang bersih untuk merajut cinta dengan sang dambaan hati.
Puisi Sitor Situmorang yang berjudul The Tale of Two Continents juga turut melakukan kebohongan serupa karena isi dari puisi tersebut bukan berbicara mengenai dua benua seperti yang digadang dalam judul bahasa asingnya. Tetapi puisi tersebut lebih banyak bercerita tentang posisi Sitor sebagai benua ketiga dalam sebuah hubungan yang telah pasti antara benua yang lain, hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut / Antara benua dan benua/, hal ini semakin memperkuat bahwa yang dibicarakan dalam puisi tersebut bukan hanya dua benua, tetapi lebih dari dua benua. Posisi Sitor yaitu sebagai seseorang yang memberikan cintanya namun cinta itu tidak terbalaskan, seperti dalam kutipan berikut / Satu kasih dan dua kesetiaan/ yang berarti sang wanita tersebut memperoleh dua kesetiaan dari dua benua yang berbeda dan salah satu dari dua benua tersebut tentu adalah Sitor, namun sang wanita hanya memberikan satu kasihnya dan itu tidak ditujukan kepada Sitor. Begitu pula pada larik berikutnya yang  berbunyi / Dua kota satu kekosongan/ Dua alamat satu kehilangan/. Hingga pada bait-bait terahir puisinya Sitor menginginkan wanita itu kembali kepadanya, walaupun ahirnya ia merelakan wanita itu dengan seseorang yang  dicintainya.
Hal inilah yang Sitor siratkan dalam puisinya, ia tidak gamblang mengumbar cintanya yang tidak berbalas namun pembaca sendirilah yang harus membuka hati untuk memahami maksud dari penyair. Dan justru kebohongan ini yang membuat puisi karya Sitor lebih mengugah rasa penasaran dalam diri pembaca karena terkadang kebohongan memang diperlukan dalam sebuah karya sastra. Kebohongan itu bisa ditolerir jika pada akhirnya kebohongan itu memberi dampak keindahan dan tentu hal ini bisa dimaklumi jika pada ahirnya kita menemukan sebuah karya dengan kejujuran yang membosankan di dalamnya. Namun kita tidak bisa mengatakan bahwa karya seni adalah kebohongan bagi masyarakat. Tetapi karya seni adalah sebuah kejutan yang tidak akan pernah kita ketahui maknanya hanya dalam satu kali membacanya. Kau harus membaca sebuah karya seni itu berulang-ulang sampai akhirnya kau akan menemukan nilai keindahan di dalamnya. Semakin keras usahamu untuk menemukan keindahan di dalamnya maka keindahan itu akan semakin bernilai.
V. Kesimpulan
Sitor Situmorang adalah salah satu penyair Indonesia yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga penikmat karya sastra. Sitor hadir memberikan warna baru pada dunia seni Indonesia dengan karya-karyanya yang mengawinkan unsur barat dan timur menjadi sebuah kesatuan yang patut untuk diapresiasi.
The Tale of Two Continents adalah salah satu karya Sitor yang mencoba menghadirkan sedikit nuansa barat dalam puisinya tersebut. Puisi ini memiliki banyak makna yang tersirat di dalamnya, ada banyak perasaan yang ingin dituangkan Sitor melalui pembicaraan dua benua dalam puisinya, mulai dari kesedihan hingga keikhlasan.
Terlepas dari pembicaraan benua kedua atau ketiga yang menjadi tujuan penulisan puisi tersebut, bahwa setiap penyair pasti memiliki tujuan yang sama dalam penulisan karyanya yaitu ingin memberikan hadiah nilai bagi para pembaca, karena sejatinya karya seni tidak lahir dari sebuah kekosongan.

VI. Daftar Pustaka
http://syairsyiar.blogspot.com/2008/06/puisi-cinta-chairil-anwar-puisi-cinta_24.html
http://anas-catatantangandiufuksenja.blogspot.com/2011/01/memahami-puisi-melalui-aliran.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar