Pagi all... hehee.. hari niy baru slese nyontreng ketua BEM niy di kmpus, tyus kemarin sy bikin cerpen yang rada2 gaje sebenernya. tapi moga ja suka. baca ja yaa. jangan lupa coment... hehe
Gadisku
Nyatanya Bukan Untukku
Namaku
Ardan, aku adalah seorang laki-laki yang terlahir dengan wajah yang menurutku
tidak terlalu tampan, karena kulihat aktor Nicholas Saputra lebih tampan
dariku. Aku juga tak merasa memiliki penampilan yang keren karena pembalap Lorenzo
jauh lebih keren dari bayanganku. Namun aku juga heran kenapa nasib masih nggan
menginggalkanku dan malah berpihak padaku. Dengan tampang yang seadanya ini
kumampu membuat perempuan-perempuan di luar sana sampai keluar matanya
melihatku karena tak ada satu pun dari bola mata mereka yang berkedip
menatapku. “Aah..! aku tidak tampan dan tidak keren namun aku luar biyasa”
lirihku dalam hati.
Aku
memiliki seseorang yang sangat mirip denganku lebih dari yang orang-orang
bayangkan dan dia nyata ada di sampinku. Ia bernama Rando, ia adalah orang yang
telah menjiplak wajah, tubuh, suara, dan pikiranku, namun hanya satu yang tak
bisa ia jiplak dari ku yaitu, hatiku. Aku selalu merasa paling dewasa darinya
karena memang aku lahir 7 menit lebih cepat darinya dari rahim yang sama. Walaupun
ia aku katakana penjiplak tapi aku sangat menyayanginya sebagai adikku, dan ia menghormatiku sebagai kakaknya.
Walaupun
kami dijuluki sebagai anak kembar, nasib Rando tak sebaik nasibku. Tak perluku
sampai repot-repot ke dukun untuk memelet gadis atau mengikuti kontak jodoh di
tv-tv, karena gadis-gadis telah antri untuk kujadikan pemilik hatiku. Sedangkan
Rando belum punya seorang gadis pun dalam hatinya, entah karena dia terbiasa
dengan kencan-kencan panasnya dengan buku-buku kuliahnya sehingga
mengharuskannya untuk berduaan setiap malam dalam kamar yang remang-remang
karena hanya lampu di atas meja belajar yang menyala, atau karena ia adalah
orang yang selektif dalam memilih pasangan hidup.
Setiap
hari aku selalu berangkat ke kampus bersama dengan Rando saudaraku, kadang aku
yang membawa kemudi, kadang aku duduk santai di belakang karena Rando yang
memegang kemudi motor hitam yang kami beri nama Jinggo. Jinggo melaju dengan
cepat menyalip setiap kendaraan yang berjalan lambat di depannya karena ia
tidak ingin tuannya terlamabat sampai di kampus. Walaupun kami berada di kampus
yang sama, Rando dan aku mengambil jurusan yang berbeda sehingga terkadang jadwal
pulang kami pun berbeda. Ketika jam kuliahku belum selesai Rando selalu
mengungguku di Perpustakaan untuk berkencan dengan buku-buku di sana, namun
jika Rando yang masih harus menyelesaikan jam kuliahnya maka aku akan
menunggunya sambil berkencan dengan mahasiswi-mahasiswi yang lain. Dalam hati
kadang aku merasa kasihan pada Rando, karena tidak mungkin seumur hidupnya ia
harus mengunci diri.
Suatu
malam saat aku bersiap untuk tidur seperti biyasa Rando aku tinggalkan dengan suasana
remang tengah malam. Aku juga sangat bangga padanya karena disaat ku tertidur,
orang tuaku tertidur, tetanggaku tertidur, dan seluruh dunia yang merasakan
malam tertidur, saudara kembarku Rando masih terjaga untuk belajar dan duduk
rapi di meja belajarnya. “Ingin rasanya kuseperti dia namun semuanya butuh
waktu dan proses” pikirku. Tik..tik..tik..tik..drrreettt..drreettt aku
terbangun dan mulai membuka mataku pelan, kuliahat masih pukul 02.00 dini hari,
“hhhmmm suara apa itu?! apa Rando masih berkutat dengan komputernya?! kubertanya
dalam hati. Kuangakat kepalaku dan kuliahat Rando masih duduk rapi di meja
belajarnya, tapi kulihat komputer di depannya sudah mati, “lalu suara apa
itu?!” pikirku dalam hati. Kembali suara itu terdengar tik…tik…tik… dreeeett..drreeettt,
segera kuangkat kepalaku dan kulihat ternyata Rando sedang bermain sms-an
dengan seseorang, tidak biyasanya Rando sms-an selarut ini, “mmm
jangan-jangan.. ah..! tidak mungkin, Rando pasti sedang sms-an dengan teman
sekelasnya untuk membahas tugas”. Walaupun itu terkesan janggal di pikiranku
karena seorang laki-laki berusia 20 tahun sms-an dengan hanya menggunakan nada
getar saja di tengah malam hanya untuk membahas tugas, namun kuanggap itu benar
karena kutak membiarkan pikiranku melayang untuk menyelediki apa yang dilakukan
saudara kembarku itu.
%#########%
Kuliahat
jam tanganku, jam menunjukkan pukul 02.00 siang, “pasti Rando sudah lama
menunggu seingtku jam 11 tadi ia sudah selesai kuliah”. Aku bergegas ke
Perpustakaan menjemputnya, namun tak kutemuakan batang hidungnya di sana “ke
mana dia?!”. Kuambil hp di saku celanaku berniat untuk menelponnya, aku menekan
tombol-tombol hpku sambil berjalan menuruni tangga, terdengar panggilan
terhubung di hpku namun Rando belum menjawabnya, kulayangkan pandanganku ke
sekeliling kampus, dan benar saja kulihat sosok Rando dari arah taman dan ia
berjalan ke arahku. “Tumben gak nunggu di Perpus Ndo?!” sambil kumasukkan hpku
kembali ke dalam saku celanaku, “ heee ia sorry-sorry tadi aku keliling taman
bentar” dia langsung membalikkan badan seolah ia tau bahwa aku akan meluncurkan
pertanyaan lain. Wajah Rando sangat berseri dengan senyum merekah, tak pernah
kuliahat wajah seceria itu sebelumnya, mungkin dengan tidak melihat Perpustakaan
sehari bisa menyegarkannya kembali, “Dan…..!” Rando membuyarkan lamunanku “mau
pulang atau mw nginep di kampus, ?! hee” lanjutnya, “iya-iya…” segera aku lari
berhamburan menuju Jinggo yang sudah siap untuk melesat membawa kami pulang.
Malam ini
kuterbangun lagi, kali ini tidak hanya melihat Rando sedang sms-an namun
terlihat senyum simpulnya dengan pipi yang memerah. Di kampus pun kerapkali aku
kehilangan jejaknya, “Rando terlihat mencurigakan..!” bisikku sendiri. Lagi-lagi
malam ini terulang kembali, ahirnya kuberanikan diri bangun dan bertanya
padanya. Ia terlihat kaget dan panik melihatku terbangun, kudesak ia agar mau
bercerita. Ahirnya malam itu untuk pertama kalinya kami curhat sebagai saudara
sekaligus sahabat. Rando bercerita kalau ia ternyata telah berpacaran dengan
seorang gadis dari fakultas lain, sungguh ku terkejut bukan main, Rando
diam-diam mencuri startku. Diam-diam Rando telah memiliki pujaan hati
mengalahkanku , padahal aku memiliki pemuja yang tak terhitung jumlahnya namun
tak ada satupun yang berterima di hatiku, sedangkan Rando kini sudah memiliki
kekasih. Tapi bukan marah yang kurasa namun rasa haru bahagia karena saudaraku
telah memiliki sandaran hatinya yang mempu menggeser posisi buku-buku tebal
dalam hati Rando.
Hari ini
di kampus kuminta Rando mengenalkan gadis itu padaku, benar saja Rando membawanya
untuk berkenalan denganku. Gadis itu terlihat manis dengan rambut sebahu, kulit
yang putih dan tai lalat kecil di pipi kirinya. Ia terlihat pintar dan senang
membaca karena ia membawa sebuah novel yang sangat tebal seperti KBBI (Kamus
Besar Bahasa Indonesia). Rando tak lupa memperkenalkan Yana gadisnya kepada
ayah dan ibu, ahirnya mereka bedua direstui.
Tiga
tahun lamanya mereka berpacaran dan terlihat begitu harmonis, aku pun mulai
mengenal cinta namun gadisku ini belum berani keperkenalkan pada ayah dan ibu,
setiap hari Rando selalu mendesakku untuk mengenalkannya dengan gadisku itu, satu
yang Rando tau bahwa aku sangat menyayangi gadisku itu. Aku duduk di sebuah
kursi di pinggir danau bersama gadisku itu, dia sangat manis sehingga tak jemu
ku memandangnya, kucium mesra keningnya lalu kami berjalan sambil kupegang erat
tangannya mengelilingi danau, yang dipinggirnya ditanami pohon-pohon rindang
bak atap alami yang melindungi kami dari gangguan matahari, yang ingin menjadi
orang ketiga di antara kencan kami sore itu. Kubelai rambut lembutnya sambil
berkata dalam hatiku “kau adalah gadisku….”.
Setahun hubungan kami berjalan
namun aku harus memutuskannya sebelum ku sempat mengenalkannya pada Rando, ayah,
dan Ibuku, kurasa memang tak perlu. Ku putus karena ku tau Rando akan segera
melamar Yana untuk menjadi istrinya, kudukung keputusan Rando saudara kembarku
itu dengan menunjukkan senyum bahagiaku disertai peluk hangat seorang saudara,
namun dalam hati aku hancur, ingin rasanya kuberteriak dengan kencang sampai
memutuskan urat leherku. Kesedihan ini bukan karena Rando harus melangkahiku
sebagai kakaknya walaupun aku lebih tua 7 menit darinya, namun kesedihan ini
karena kodrat ku sebagai anak kembar yang ternyata memiliki persamaan dalam hal
hati dan selera pada seorang gadis, sehingga membuatku memadu kasih dengan Yana
selama setahun tanpa sepengetahuannya. Dengan sepihak kuputuskan hubunganku
dengan Yana karena saudaraku memang memiliki hak atas dirinya. Kubuang
jauh-jauh perasaanku pada Yana selama ini, kuhapus semua kenangan itu.
Hari
pernikahan Rando dan Yana pun tiba, Yana terlihat bahagia terlebih lagi Rando
tak henti bibirnya menyunggingkan senyum. Yana memandangku dengan pandangan kosong,
kualihkan pandanganku. Saat Rando memasangkan cicin ke jari manis Yana hati ku
menjerit bagaikan ditusuk oleh paku berkarat, dan tak terasa air mataku malah
mengalir deras di pipiku, segera kuusap agar tak terlihat alirannya membasahi
pipiku. Yana melihatku kembali sebelum memasangkan cincin ke jari manis Rando,
dan kembali ku membalikkan pandanganku, kupandangin wajah Rando yang bahagia. Pikirku
Rando pantas mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya walaupun ia tidak tau
bahwa gadis yang ada di hadapannya kini pernah kujamah.
Mataram, 23 Juni 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar