Minggu, 24 Juni 2012

CERPEN "Gadisku Nyatanya Bukan Untukku"



Pagi all... hehee.. hari niy baru slese nyontreng ketua BEM niy di kmpus, tyus kemarin sy bikin cerpen yang rada2 gaje sebenernya. tapi moga ja suka. baca ja yaa. jangan lupa coment... hehe

Gadisku Nyatanya Bukan Untukku
Namaku Ardan, aku adalah seorang laki-laki yang terlahir dengan wajah yang menurutku tidak terlalu tampan, karena kulihat aktor Nicholas Saputra lebih tampan dariku. Aku juga tak merasa memiliki penampilan yang keren karena pembalap Lorenzo jauh lebih keren dari bayanganku. Namun aku juga heran kenapa nasib masih nggan menginggalkanku dan malah berpihak padaku. Dengan tampang yang seadanya ini kumampu membuat perempuan-perempuan di luar sana sampai keluar matanya melihatku karena tak ada satu pun dari bola mata mereka yang berkedip menatapku. “Aah..! aku tidak tampan dan tidak keren namun aku luar biyasa” lirihku dalam hati.
Aku memiliki seseorang yang sangat mirip denganku lebih dari yang orang-orang bayangkan dan dia nyata ada di sampinku. Ia bernama Rando, ia adalah orang yang telah menjiplak wajah, tubuh, suara, dan pikiranku, namun hanya satu yang tak bisa ia jiplak dari ku yaitu, hatiku. Aku selalu merasa paling dewasa darinya karena memang aku lahir 7 menit lebih cepat darinya dari rahim yang sama. Walaupun ia aku katakana penjiplak tapi aku sangat menyayanginya sebagai adikku, dan ia  menghormatiku sebagai kakaknya.
Walaupun kami dijuluki sebagai anak kembar, nasib Rando tak sebaik nasibku. Tak perluku sampai repot-repot ke dukun untuk memelet gadis atau mengikuti kontak jodoh di tv-tv, karena gadis-gadis telah antri untuk kujadikan pemilik hatiku. Sedangkan Rando belum punya seorang gadis pun dalam hatinya, entah karena dia terbiasa dengan kencan-kencan panasnya dengan buku-buku kuliahnya sehingga mengharuskannya untuk berduaan setiap malam dalam kamar yang remang-remang karena hanya lampu di atas meja belajar yang menyala, atau karena ia adalah orang yang selektif dalam memilih pasangan hidup.
Setiap hari aku selalu berangkat ke kampus bersama dengan Rando saudaraku, kadang aku yang membawa kemudi, kadang aku duduk santai di belakang karena Rando yang memegang kemudi motor hitam yang kami beri nama Jinggo. Jinggo melaju dengan cepat menyalip setiap kendaraan yang berjalan lambat di depannya karena ia tidak ingin tuannya terlamabat sampai di kampus. Walaupun kami berada di kampus yang sama, Rando dan aku mengambil jurusan yang berbeda sehingga terkadang jadwal pulang kami pun berbeda. Ketika jam kuliahku belum selesai Rando selalu mengungguku di Perpustakaan untuk berkencan dengan buku-buku di sana, namun jika Rando yang masih harus menyelesaikan jam kuliahnya maka aku akan menunggunya sambil berkencan dengan mahasiswi-mahasiswi yang lain. Dalam hati kadang aku merasa kasihan pada Rando, karena tidak mungkin seumur hidupnya ia harus mengunci diri.
Suatu malam saat aku bersiap untuk tidur seperti biyasa Rando aku tinggalkan dengan suasana remang tengah malam. Aku juga sangat bangga padanya karena disaat ku tertidur, orang tuaku tertidur, tetanggaku tertidur, dan seluruh dunia yang merasakan malam tertidur, saudara kembarku Rando masih terjaga untuk belajar dan duduk rapi di meja belajarnya. “Ingin rasanya kuseperti dia namun semuanya butuh waktu dan proses” pikirku. Tik..tik..tik..tik..drrreettt..drreettt aku terbangun dan mulai membuka mataku pelan, kuliahat masih pukul 02.00 dini hari, “hhhmmm suara apa itu?! apa Rando masih berkutat dengan komputernya?! kubertanya dalam hati. Kuangakat kepalaku dan kuliahat Rando masih duduk rapi di meja belajarnya, tapi kulihat komputer di depannya sudah mati, “lalu suara apa itu?!” pikirku dalam hati. Kembali suara itu terdengar tik…tik…tik… dreeeett..drreeettt, segera kuangkat kepalaku dan kulihat ternyata Rando sedang bermain sms-an dengan seseorang, tidak biyasanya Rando sms-an selarut ini, “mmm jangan-jangan.. ah..! tidak mungkin, Rando pasti sedang sms-an dengan teman sekelasnya untuk membahas tugas”. Walaupun itu terkesan janggal di pikiranku karena seorang laki-laki berusia 20 tahun sms-an dengan hanya menggunakan nada getar saja di tengah malam hanya untuk membahas tugas, namun kuanggap itu benar karena kutak membiarkan pikiranku melayang untuk menyelediki apa yang dilakukan saudara kembarku itu.
%#########%
Kuliahat jam tanganku, jam menunjukkan pukul 02.00 siang, “pasti Rando sudah lama menunggu seingtku jam 11 tadi ia sudah selesai kuliah”. Aku bergegas ke Perpustakaan menjemputnya, namun tak kutemuakan batang hidungnya di sana “ke mana dia?!”. Kuambil hp di saku celanaku berniat untuk menelponnya, aku menekan tombol-tombol hpku sambil berjalan menuruni tangga, terdengar panggilan terhubung di hpku namun Rando belum menjawabnya, kulayangkan pandanganku ke sekeliling kampus, dan benar saja kulihat sosok Rando dari arah taman dan ia berjalan ke arahku. “Tumben gak nunggu di Perpus Ndo?!” sambil kumasukkan hpku kembali ke dalam saku celanaku, “ heee ia sorry-sorry tadi aku keliling taman bentar” dia langsung membalikkan badan seolah ia tau bahwa aku akan meluncurkan pertanyaan lain. Wajah Rando sangat berseri dengan senyum merekah, tak pernah kuliahat wajah seceria itu sebelumnya, mungkin dengan tidak melihat Perpustakaan sehari bisa menyegarkannya kembali, “Dan…..!” Rando membuyarkan lamunanku “mau pulang atau mw nginep di kampus, ?! hee” lanjutnya, “iya-iya…” segera aku lari berhamburan menuju Jinggo yang sudah siap untuk melesat membawa kami pulang.
Malam ini kuterbangun lagi, kali ini tidak hanya melihat Rando sedang sms-an namun terlihat senyum simpulnya dengan pipi yang memerah. Di kampus pun kerapkali aku kehilangan jejaknya, “Rando terlihat mencurigakan..!” bisikku sendiri. Lagi-lagi malam ini terulang kembali, ahirnya kuberanikan diri bangun dan bertanya padanya. Ia terlihat kaget dan panik melihatku terbangun, kudesak ia agar mau bercerita. Ahirnya malam itu untuk pertama kalinya kami curhat sebagai saudara sekaligus sahabat. Rando bercerita kalau ia ternyata telah berpacaran dengan seorang gadis dari fakultas lain, sungguh ku terkejut bukan main, Rando diam-diam mencuri startku. Diam-diam Rando telah memiliki pujaan hati mengalahkanku , padahal aku memiliki pemuja yang tak terhitung jumlahnya namun tak ada satupun yang berterima di hatiku, sedangkan Rando kini sudah memiliki kekasih. Tapi bukan marah yang kurasa namun rasa haru bahagia karena saudaraku telah memiliki sandaran hatinya yang mempu menggeser posisi buku-buku tebal dalam hati Rando.
Hari ini di kampus kuminta Rando mengenalkan gadis itu padaku, benar saja Rando membawanya untuk berkenalan denganku. Gadis itu terlihat manis dengan rambut sebahu, kulit yang putih dan tai lalat kecil di pipi kirinya. Ia terlihat pintar dan senang membaca karena ia membawa sebuah novel yang sangat tebal seperti KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Rando tak lupa memperkenalkan Yana gadisnya kepada ayah dan ibu, ahirnya mereka bedua direstui.
Tiga tahun lamanya mereka berpacaran dan terlihat begitu harmonis, aku pun mulai mengenal cinta namun gadisku ini belum berani keperkenalkan pada ayah dan ibu, setiap hari Rando selalu mendesakku untuk mengenalkannya dengan gadisku itu, satu yang Rando tau bahwa aku sangat menyayangi gadisku itu. Aku duduk di sebuah kursi di pinggir danau bersama gadisku itu, dia sangat manis sehingga tak jemu ku memandangnya, kucium mesra keningnya lalu kami berjalan sambil kupegang erat tangannya mengelilingi danau, yang dipinggirnya ditanami pohon-pohon rindang bak atap alami yang melindungi kami dari gangguan matahari, yang ingin menjadi orang ketiga di antara kencan kami sore itu. Kubelai rambut lembutnya sambil berkata dalam hatiku “kau adalah gadisku….”.
Setahun hubungan kami berjalan namun aku harus memutuskannya sebelum ku sempat mengenalkannya pada Rando, ayah, dan Ibuku, kurasa memang tak perlu. Ku putus karena ku tau Rando akan segera melamar Yana untuk menjadi istrinya, kudukung keputusan Rando saudara kembarku itu dengan menunjukkan senyum bahagiaku disertai peluk hangat seorang saudara, namun dalam hati aku hancur, ingin rasanya kuberteriak dengan kencang sampai memutuskan urat leherku. Kesedihan ini bukan karena Rando harus melangkahiku sebagai kakaknya walaupun aku lebih tua 7 menit darinya, namun kesedihan ini karena kodrat ku sebagai anak kembar yang ternyata memiliki persamaan dalam hal hati dan selera pada seorang gadis, sehingga membuatku memadu kasih dengan Yana selama setahun tanpa sepengetahuannya. Dengan sepihak kuputuskan hubunganku dengan Yana karena saudaraku memang memiliki hak atas dirinya. Kubuang jauh-jauh perasaanku pada Yana selama ini, kuhapus semua kenangan itu.
Hari pernikahan Rando dan Yana pun tiba, Yana terlihat bahagia terlebih lagi Rando tak henti bibirnya menyunggingkan senyum. Yana memandangku dengan pandangan kosong, kualihkan pandanganku. Saat Rando memasangkan cicin ke jari manis Yana hati ku menjerit bagaikan ditusuk oleh paku berkarat, dan tak terasa air mataku malah mengalir deras di pipiku, segera kuusap agar tak terlihat alirannya membasahi pipiku. Yana melihatku kembali sebelum memasangkan cincin ke jari manis Rando, dan kembali ku membalikkan pandanganku, kupandangin wajah Rando yang bahagia. Pikirku Rando pantas mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya walaupun ia tidak tau bahwa gadis yang ada di hadapannya kini pernah kujamah.

Mataram, 23 Juni 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar