Si Hujan Pembunuh
Kubersihkan tubuhku
bersama hujan
bukan dengan hujan
Tapi kuditemani olehnya
Dedaunan pinggir jalan
itu melihatku
memandangku dari ujung
kaki ke ujung rambut
seakan ia tahu kapan
tubuh ini akan menggelepar di bawah timbunan tanah merah
Ku tak pernah tahu
sejak kapan aku mulai
menyukai hujan
dan sejak kapan kumulai
membenci hujan
Hujan bagaikan sebuah
tangan
yang bisa menyeret
ruhku
berarak mengikuti
perginya awan hitam
Hujan kini begitu
menyeramkan untukku
walau kadang
kepergiannya
meninggalkan jejak
terindah dalam hidupku
Mataram,
30 Januari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar