Jumat, 01 Februari 2013

PUISI "Si Hujan Pembunuh"


Si Hujan Pembunuh

Kubersihkan tubuhku bersama hujan
bukan dengan hujan
Tapi kuditemani olehnya

Dedaunan pinggir jalan itu melihatku
memandangku dari ujung kaki ke ujung rambut
seakan ia tahu kapan tubuh ini akan menggelepar di bawah timbunan tanah merah

Ku tak pernah tahu
sejak kapan aku mulai menyukai hujan
dan sejak kapan kumulai membenci hujan

Hujan bagaikan sebuah tangan
yang bisa menyeret ruhku
berarak mengikuti perginya awan hitam

Hujan kini begitu menyeramkan untukku
walau kadang kepergiannya
meninggalkan jejak terindah dalam hidupku
                                                            Mataram, 30 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar